Sabtu, 18 Januari 2014

Journey Part 4


Paradoks di Bangkok :D
Sebagai ibukota Thailand, aku membayangkan Bangkok adalah kota yang indah dan rupawan. Pernah mendengar informasi bahwa kota Bangkok ini tidak jauh beda dengan Jakarta.
Sesaat sebelum kereta sampai di stasiun Hua Lam Pong Bangkok, kami cukup ‘takjub’ dengan pemandangan sampah dimana-mana, dan bebauan ‘khas’.

Sawade Ka… Selamat datang di Bangkok.

Selama perjalanan saya memang senang mengkonsumsi air putih dan minuman lainnya. secara otomatis, hal ini membuat saya ‘kaya’ akan pengalaman memasuki berbagai toilet di hampir semua tempat yang dikunjungi. Toilet di Stasiun Kota Bangkok gak terlalu terawat meskipun berbayar, masih lebih nyaman di toilet stasiun gambir :D
Syukur alhamdulillahnya, kejutan pertama yang kami dapatkan di stasiun adalah kehadiran Mushollah, muslim pray, di satu sudut yang cukup besar. Akhirnya saya pun melakukan sholat dzuhur dan ashar secara jama’. Leganyaaaaa…. Sambutan ini cukup menyenangkan. Dan di tempat ini pula, saya bertemu dengan muslimah bercadar yang memberikan ‘clue’ untuk perjalanan kami. Tak terencana untuk ke tempat tersebut, tapi akhirnya menjadi salah satu tujuan utama perjalanan di Bangkok.
Setelah sholat, meskipun sudah jam makan siang tetapi kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu untuk menyimpan barang. Sesuai dengan petunjuk bule ‘love lane’ yang bertemu di Penang, akhirnya kami mencari Bus 53. Belok kiri dari stasiun, dan bertanya kepada pusat informasi dan beberapa tukang parkir di sebelah stasiun. Ternyata bukan hanya kami berdua yang menuggu bus 53, seorang bule cantik pun ada disitu. Saya pun mulai menyapa. Senasib menunggu si 53, akhirnya kami pun berkenalan. Untuk tipe bule, dia tergolong cukup ramah karena mengajak berkenalan, sikap tulusnya tampak dari sorot matanya. Dia hanya transit di Bangkok, baru tiba dari Belanda dan akan melanjutkan perjalanan ke Laos. 

Namanya Annemae. Cantik, baik. kami hanya bersama selama kurang lebih 20 menit, tapi rasanya sudah kenal sangat lama. Dia juga mendapatkan informasi tentang bus 53 dan Khao San Road. Kami terus bercerita selama di bus. Banyak hal yang ingin saya sampaikan padanya, namun bahasa Inggris yang jatuh bangun membuatku sering kehilangan kata-kata. Saat seperti itu, teman kerja ‘Ratih’ sangat membantu untuk menyumbangkan kosakata atau malah memberikan penjelasan tambahan. Seketika teringat dengan guru bahasa Inggris ku di MTsN, tak henti-hentinya dia menceramahi kami untuk setiap hari menghapalkan 5 kosakata bahasa Inggris :D
Kami turun di tempat yang sudah terlihat banyak turis… pikir kami itulah Khao San Road (belakangan kami tau bahwa itu adalah kawasan China town, dan tempatnya tidak berapa jauh dari stasiun Hua Lam Pong, Bus itu memang ‘berputar’ dan Khao San Road pun masih sangat jauh. Kami berpisah dengan si Bule Belanda itu, dia spontan memeluk kami. Aku dan ratih hanya setinggi keteknya, dan ia pun membungkuk untuk tepat memeluk kami. Saya dan ratih hanya berpandangan, sedih karena harus pisah dan membayangkan bahwa mandi terakhir kami adalah kemarin pagi saat masih di Penang:D
Paradoks lain di Bangkok ini, adalah diantara pembangunan yang dilakukan dan Bangkok sebagai salah satu pintu masuk Asia, sulit untuk menemukan warga Thailand yang bisa berbahasa Inggris. Untuk mendapatkan informasi mengenai jalan Khao San Road saja sangat sulit, kami bertanya beberapa kali kepada orang Thailand, namun nihil. Akhirnya kami bertanya kepada bule, dan mereka mengarahkan untuk naik bus 53 hehehhee…
Sekitar 45 menit, akhirnya kami sampai di jalan yang dekat dengan Khao San Road (Rambuttri). Lemas, lapar, lelah membuat kami berjalan gontai untuk mencari penginapan. Penginapan pertama, 800 bath per malam, yang kedua 500 bath permalam, dan akhirnya kami  ke penginapan lain. sisa 1 kamar kecil kata bapak itu dengan bahasa Inggris terbata-bata, harganya 300 Bath… hihihi, saya coba untuk tawar 500 bath untuk 2 malam, bapak itu hanya senyum dan geleng kepala. Tanpa berpikir panjang, kami langsung bayar.

Setelah menyimpan barang dan merebahkan badan sebentar, kami pun langsung bergegas mencari makan. Waktu sudah menunjukan pukul 15.30 dan kami belum makan siang. Penginapan kami tepatnya di jl. Rambutri, keluar dari penginapan kami sudah dihadapkan kumpulan bule yang sedang mmakan di pinggiran jalan. Makanan saat ini menjadi godaan terbesar kami, ratusan meter ditempuh untuk mencari makanan Halal… nihil, mata sudah berkunang-kunang. Saya dan Ratih tak sanggup lagi berbicara, mata kami terus mencari si makanan halal. Sampai diujung jalan Khao San Road, kami tak menemukan makanan yang tampak halal. Di pertengahan jalan kamibertemu dengan penjual pancake pisang… sangat tergoda tapi khawatir. Setelah berjaln jauh dan mengingat kata seorang teman ttg pancake pisang ini, kami pun memutuskan untuk kembali, sekadar mengganjal perut yang sudah meronta-ronta. Ratih masih tampak sangsi dengan kehalalan si pancake. Aku sudah tak bisa berpikir. 

Sambil menunggu ibu itu membuat pancakenya, aku mulai bertanya dengan bahasa ‘tarzan’, memegang jilbabku dan menyebutkan halal food berkali-kali. Dia memberikan jawaban dengan gerakan tangan untuk menyampaikan ‘tidak ada’. Rasanya ingin nangis aja. Beberapa detik kemudian, si ibu pancake tiba bersuara… ahhhh…dan memberikan isyarat bahwa kami harus lurus, dia menyebutkan ‘susi’, isyarat untuk belok kiri, dan kemudian memberikan isyarat belok kanan dan menyebutkan ‘pizza’. Seketika energi kami kembali. Akupun langsung melahap si pancake, Ratih hanya mencicipi karena ingin seggera makan nasi. Karena tak ingin makan sambil berdiri, akupun memilih pojokan untuk duduk menghabiskan pancake. Ratih melanjutkan perjalanan ke arah yang ditunjukkan si ibu, dan kami janjian bertemu disana.

Alhamdulillah… ibu itu benar. Di pojokan samping ‘pizza’, ada warung tenda kecil yang menjual makanan. Ibu penjualnya menggunakan jilbab dengan baju lengan pendek. Jam 5 sore akhirnya kami bertemu nasi, menu terakhir di tempat itu. Nikmatnya masya Allah…  terimakasih Tuhan untuk menghadirkan ibu dan bapak penjual ini, juga khusus untuk ibu pancake sebagai pemberi petunjuk.
Kami berjalan pulang dengan kenyang dan bahagia. Kami pun bisa menikmati perjalanan pulang dengan melihat ke sekeliling. Sampai di penginapan, langsung merebahkan diri. Mandi, sholat. Ratih akhirnya berinisiatif untuk searching makanan halal di daerah Khao San Road. Akhirnya nemu ‘Roti-Mataba’ di sekitar Phra Atit, tak jauh dari tempat kami menginap. Alhamdulillah J bahkan dalam perjalanan pulang setelah makan, kami menemukan toko buku ‘bekas impor’ yang sangat menggoda kami untuk datang dan datang lagi…. Tempat ini adalah salah satu yang akan kami rindukan dari Bangkok.

Hari pertama di Bangkok, penuh dengan kejutan. Kami masih pusing dan agak ‘Train Lag’ hahahhahahaha… Malam ini adalah salah satu tidur ternyenyak kami :D masih ada setitik harapan semoga esok Bangkok memberi kami kejutan-kejutan lainnya.

Minggu, 12 Januari 2014

Journey Part 3



01 Januari 2014, bertolak dari Penang (Malaysia) menuju Bangkok (Thailand) 
Penang memang bukan tujuan utama kami. Hanya sebagai tempat persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan. Tapi, masya Allah saat akan meninggalkan Penang ini, kami gamang. Khususnya untuk rekan seperjalanan, tatapannya mendadak kosong beberapa jam sebelum kami meninggalkan Penang.
Akhirnya tanpa benar-benar disadari. kami mendadak memutuskan untuk ‘berpisah’ dengan Penang secara baik-baik. saya memilih untuk ‘going nowhere’ mengeliling Penang, dan rekan saya memilih menelusuri street art yang tersebar dijalan Penang melalui petunjuk Peta Penang yang baru didapatkannya di Hotel sesaat sebelum kami berangkat. Saya tersesat di acara ‘car free day’ tahun baru dan menikmati tontonan keramaian warga Penang yang multietnis dan rekan saya berhasil menemukan 90% street art seperti yang tertulis di peta. Di waktu yang sudah ditentukan sebelumnya, akhirnya kami kembali ke hotel dan siap untuk berangkat.
Terngiang lagu kampungku yang selalu dinyanyikan saat kecil:
Kabaena gunungnya tinggi, ombak di laut sama ratanya…
Sungguh lah enak orang yang pergi, kami yang tinggal apa rasanya…
Kami yang pergi, dan kami merasa tak enak L gamang, kami berjalan gontai menuju dermaga ferry. Ragu untuk meninggalkan Penang yang sangat nyaman dan takut menghadapi Thailand yang masih abu-abu.
Penang tak henti-hentinya memberi kejutan, sebelum berangkat kami mampir membeli nasi kepada ibu muslim India-Melayu yang menyampaikan betapa banyak restoran muslim di Bangkok, dan wajahnya yang sumringah seolah memberikan janji surga di Bangkok sana. Kejutan terakhir dari Penang, kami bingung dan bahagia setelah mengetahui bahwa penyeberangan pulang dari Penang – Butterworth, GRATIS. Hahayyyyyyy J
30 menit penyeberangan, sampailah di Butterworth. Sepi dan Panas. Masuk ke stasiun pun sepi, hanya ada 1 bule disana. Toilet kurang bersih dan musholla yang kurang terawatt, aihhh.. Penang sudah terasa jauh.
Tuhan Maha Baik, tak rela kami meninggalkan kesan buruk akan Butterworth, karena di stasiun ini kami akhirnya berkenalan dengan 3 orang Thailand asli yang juga sedang berlibur di Penang. 2 cewek dan 1 cowok. Iseng kenalan untuk belajar bahasa Thai, dan akhirnya kami mendapatkan banyak informasi tentang bahasa, trik khusus di Thai, makanan muslim. Percakapan kami pun ‘patah-patah’ dengan bahasa Inggris dan bahasa Isyarat/Tarzan hehehe… mereka pun menambah janji surga, mendukung ibu penjual nasi tadi J saking bahagianya ketemu mereka bertiga, kami pun gak enak karena tidak ada barang ataupun kenangan yang bisa kami berikan selain foto. Akhirnya telur asin dan sosis yang jadi bekal kami selama perjalanan kami bagi, mereka pun sama tak enaknya, berbagi makanan dan berfoto bersama. Kop Kun Kaaaaa J karena pengalaman ini, kami pun menyesal tak membawa ‘souvenir’ atau apapun yang bisa menjadi buah tangan saat bertemu orang baik diperjalanan… insya Allah, next trip J
Pukul 14,30, perjalanan kereta dimulai, untuk 24 jam perjalanan menuju Bangkok. Kelas ‘sleeper’ memang menyenangkan. Bersih, toilat bersih, ada westafel dan di gerbong yang kami tempati seperti mewakili komunitas antar bangsa. Kami Indonesia, sepasang kakak beradik dari Thailand, 1 cowok Indonesia lain yang ‘cunihin’ dan baik hati, sepasang suami istri ‘bule, berpasang2 bule lainnya yang kami tebak adalah orang latin, dan satu keluarga Jepang. Selama 24 jam kami bersama dalam suka dan duka hehehhee… tentang kereta, ada hal menarik yang cukup berbeda antara Malaysia dan Thailand, saat di Malaysia rasanya kereta berjalan dengan mulus, namun saat memasuki perbatasan Thailand, entah ada masalah apa dengan relnya.. tetapi rasanya kami melalui jalan yang bergelombang, berombak. Kami pun berasumsi, mungkin rel atau rodanya kelonggaran:D
Semakin malam dan semakin memasuki Thailand, ‘ombak’ pun semakin besar. Kami pun bersiap menaiki ‘sleeper-atas’ yang menjadi rumah kami malam ini. Teringat buku ‘Aleph’ Paulo Coelho, tentang titik aleph dan perjalanan kereta trans Siberia yang berhari-hari, someday mungkin kami akan melalui perjalanan panjang itu J
Terimakasih Allah untuk kenyamanan ini, semoga Thailand-Bangkok, memeluk kami seperti rasa nyaman yang diberikan Penang ……



Versi lain dari cerita ini, dituliskan juga oleh teman seperjalanan saya di : http://rheazone13.blogspot.com/

Journey Part 2



Awalnya, tujuan utama kami adalah Bangkok dan Vietnam. Rekan seperjalanan saya sangat ingin ke Vietnam, tetapi karena permasalahan biaya saat booking tiket, akhirnya kami hanya bisa membeli tiket PP Kuala Lumpur- Bandung. Setelah dari Bangkok, kami pun tetap harus melalui perjalanan yang sama untuk kembali ke Kuala Lumpur. Kami mulai menyiasati rencana  perjalanan untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda saat berangkat maupun saat pulang menuju KL.
Rencana awal dari KL, adalah mampir ke Penang. Tetapi kemudian berubah untuk ke Hatyai terlebih dahulu sebelum ke Bangkok sambil mengistrahatkan diri dan berniat melewati tahun baru di tempat yang tidak terlalu ramai. Pulangnya dari Bangkok, mampir ke Penang sebelum KL. Kami menghindari tahun baru di Kuala Lumpur maupun Bangkok, selain karena biaya penginapan yang pastinya mahal, kami berdua pun bukanlah tipe yang ‘peduli’ dengan perayaan tahun baru. waktu ini kami gunakan sebagai liburan karena bertepatan dengan libur kantor, meskipun rekan saya masih harus menambah cuti.
Kami hanya bisa berencana, tapi Tuhan yang memegang Takdir kami :D
Saat membeli tiket di KL, tiket KL-Hatyai HABIS! Kami panik. Langsung merubah rencana, dan beralih ke Penang melalui Butterworth seperti rencana semula. Dan yang paling mengagetkan adalah tiket Butterworth-Bangkok, lebih dari harga tiket yang kami cek di internet. Akhirnya kami ‘pasrah’ mengambil tiket ‘sleeper’, alias sekelas eksekutif kalo di Indonesia. Kata teman saya, inilah perjalanan sesungguhnya… ada tantangan di setiap perubahan rencana hehehe :D
Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami keliling KL di sekitaran KL sentral. Mengunjungi menara kembar, little India dan mencicipi  makanan muslim India. Sejenak kagum dengan transportasi di Malaysia dan membandingkan dengan transportasi di tanah airku Indonesia yang tercinta :D
Dalam perjalanan kereta menuju Butterworth, kami masih merasa nyaman karena membayangkan masih mungkin berbahasa melayu. Thailand adalah suatu tempat antah berantah yang pastinya akan terasa ‘asing’ meskipun sedikit sedikit sudah mempersiapkan diri dengan bahasa Thai. Kami mengambil kelas ‘Bisnis’ di kereta ini, AC yang sangat dingin membuat kami sulit tidur sehingga hampir secara bergantian kami meninggalkan kursi dan berdiri di batas antar gerbong.
Di batas gerbong itulah, mulai ngobrol dengan pak cik yang pun sedang menghangatkan badan di luar gerbong. ‘kenek’ kereta pun ikut nimbrung dan mulai bertanya-tanya tentang siapa kami, dan kemana kami akan pergi. Selain karena wajah yang masih tampak kekanak-kanakan, kami juga tergolong pendek dan kecil sehingga pak cik dan si abang kereta memberikan wejangan dan wanti-wanti untuk tidak usah sampai ke Thailand. Disana sedang konflik, ada pemboman.. ada pembunuhan, dan kami adalah perempuan. Apalagi setelah mereka tau bahwa kami tidak memiliki teman disana. Kami pun sempat ragu dan khawatir, tapi yasudahlah… pak cik dan abang itu memang mengkhawatirkan kami. Bahkan mereka akhirnya menyarankan agar tidak usah ke Penang, cukup ke butterworth saja. kalaupun mau ke penang, cukup sehari dan nginap di Butterworth saja.
Kami tiba di Butterworth pukul 11 malam. Sampai disana, kami pun sudah berniat untuk menginap di Butterworth dan melanjutkan ke Penang besoknya. Tapi setelah sekilas melihat Butterworth yang sunyi sepi,akhirnya kami berbalik arah dan menuju kapal Ferry ke Penang. Penyeberangan terakhir adalah pukul 12 malam. Dengan biaya 1 Ringgit 20 sen, kami tiba di Penang 30 menit kemudian. Dengan beban tas dan kantuk parah, kami menyusuri jalanan sepi penang jam 12an malam, tanpa tujuan. Setelah berjalan beberapa lama, dari kejauhan saya melihat bangunan yang tampak seperti masjid. Kami pun mengarah ke sana, dan ternyata itu adalah bangunan pemadam kebakaran. FYI, di Malaysia dan sekitarnya banyak bangunan yang seperti masjid, tapi ternyata bukan hehehe.
Kami berjalan lagi dan tebak-tebakan ke arah mana. Mulai memasuki satu penginapan, biayanya 70 RM (1 RM;  Rp 3750), budget kami kurang dari itu. Bertanya ke orang-orang di jalan, mereka menunjuk ke hotel India di daerah belakang, kami pun berjalan ke arah hotel tersebut dan tidak menemukan pintunya. Kami pun akhirnya memutar arah, dan masuk ke penginapan lain, harganya jadi lebih tinggi (80 RM). Semakin lelah, mutar-mutar tanpa arah dan mulai berpikir akan langsung mengambil kamar jika biayanya 50 RM semalam, atau berbalik ke hotel pertama.
Terkadang Tuhan ingin tahu usaha kita untuk mencari, memberikan jalan berliku dan berputar untuk akhirnya kembali ke titik awal…
Setelah berputar dan hampir putus asa, akhirnya kami menemukan Hotel India yang tadinya tampak tak berpintu. Kami sekarang menemukan hotel itu dari arah depan, dan syukurnya saat bertanya tentang harga, 50 RM tepat seperti budget yang kami anggarkan. Tanpa menunda kami pun langsung mengambil. Percakapan awal agak sulit, karena receptionisnya pun bingung untuk bahasa melayu maupun Inggris.
Terimkasih Tuhan untuk mempertemukan kami dengan hotel murah ini J
Perjalanan kami, tidak hanya berbatas kepada tempat yang harus kami kunjungi. Kek Lo Si memang menarik, tapi kami menemui berbagai macam orang yang jauh lebih menarik. Orang baik pertama yang kami temui adalah pelayan kedai muslim india di depan Hotel. Meskipun susah memahami bahasa kami, dia tampak ‘empati’ saat melihat kami membeli 1 potong ayam dan 2 porsi nasi, dia pun langsung menawarkan dengan bahasa ‘isyarat’ untuk memotong ayamnya. Gayanya yang ceria dan melayani sambil bernyanyi mengingatkan kami pada lagu-lagu bollywood. Dan yang paling mengesankan adalah saat kami bertanya tentang ‘Bus Stop’ dia mampu memberikan petunjuk tanpa bahasa, tapi melalui bahasa gerakan, berjalan ke depan untuk menyampaikan ‘lurus’ dan berjalan ke kiri atau kanan untuk menjelaskan arah :D
Sore harinya kami mengelilingi Penang dengan berjalan kaki. Kami menemukan laut dan pantai, sejenak diserang sedikit perasaan ‘rumah’ dan bayang-bayang teh tarik dan roti canai yang akan melengkapi suasana pantai, sayangnya tak ada penjual yang diharapkan. Di jalan pulang, kami pun dipertemukan dengan salah satu orang yang menjadi penunjuk jalan kami untuk ke Bangkok. Saat berfoto di pojokan jalan ‘Love Lane’, rekan ini bercanda bahwa akhirnya saya bertemu dengan Love Lane, belum selesai menyampaikan itu, tetiba seorang bule muncul dan langsung berpose di samping saya. Tanpa babibu, dia pun langsung berbicara kepada kami dengan bahasa Inggris yang sangat cepat. Tanpa canggung dia langsung bersila di trotoar dan memberi kami catatan untuk menuliskan facebooknya. Setelah menyampaikan bahwa besok kamii akan ke Thailand, dia langsung nyerocos tentang murahnya hidup di Thailand. Ke jalan mana kami harus mencari penginapan, biaya bus, dan yang berkali-kali diingatkan adalah kami harus naik Bus 53, dari stasiun belok kiri saja. just turn left!!! Remember! J tentang kekhawatiran kami akan konflik di Thailand, akhirnya sedikit tercerahkan setelah ngobrol dengan bule ini, didukung dengan info dari seorang teman yang baru saja kembali dari Bangkok.
Masih terkaget-kaget dengan sikap bule itu, kamipun berpisah dan melanjutkan perjalanan, dan saat menyeberangi jembatan penyeberangan, kami pun disuguhkan pemandangan laut yang membuat kami berhenti. Menikmati dan mensyukuri pemandangan yang ada di sekeliling.
Allah memang Maha Baik, di jalan pulang ke Hotel. Kami pun menemukan kedai sederhana penjual roti canai dan the Tarik, di Lebuh King. Alhamdulillah. Awalnya sempat sangsi dengan si empunya kedai, lelaki India yang tampak kurang bersih saat menyajikan makanan, tapi masya Allah saat menikmati setiap tegukan the tarik dan memakan roti canainya… seketika merasa ditarik, mengunjungi Taj Mahal dan melintasi Kashmir di India… Hahahahha, kejutan terakhirnya adalah harga makan dan minum tersebut hanya 2 RM saja. Oooo, surga dunia… terimakasih Allah…
Kami pun berlalu dalam damai, menikmati sensasi perjalanan yang sarat kejutanJ
Salah satu aturan dalam perjalanan ini, saya harus mencari dan menemukan masjid. Menemukan msjid kapitan keeling adalah anugerah, dan kami pun mendapatkan pamflet/brosur gratis tentang informasi pengenalan islam yang berbahasa Inggris. Di dekat hotel, ada satu lagi bangunan yang tampak seperti masjid, niat maghrib berjamaah pun membuat saya ke tempat ini juga, saat memasuki pintunya. Saya pun bertanya, ‘women… can women pray here’ karena melihat semuanya lelaki India…mereka menjawab, bukan masjid. ternyata bangunan itu bukan masjid. Suara adzan berasal dari masjid lain:D
Malam Tahun Baru 2014, kami sempatkan untuk berjalan-jalan ke lapangan besar di Penang. Ada acara konser besar menyambut tahun baru. yang keren di Penang ini adalah, kota kecil yang sangat aman, mobil di parkir dengan tertib, TANPA tukang parkir. Konser besar tersebut ditonton dengan tertib, bersih, hampir semua penonton duduk rapi di hamparan rumput, tanpa kehebohan apalagi keributan. Konser 3 budaya, China, India dan Melayu… kami tak mengerti lirik yang dinyanyikan, kami hanya bisa menebak dari musiknya apakah lagu itu tipe lagu ‘galau’ atau ‘semangat’.
2014, Penang. Terimakasih untuk keberagaman dan jamuanmu yang menakjubkan J

Jumat, 10 Januari 2014

Journey Part 1



Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah maha teliti dan maha mengetahui.
(Quran, Al Hujurat – 13)

Selalu teringat akan surah ini. Mengingatkan untuk saling mengenal dan melakukan perjalanan.
Sejak kecil, sangat senang ketika diajak bepergian… bahkan meskipun itu hanya ke desa sebelah. Paling menyenangkan saat menyebrang dari pulau tempat tinggal kami. Setelah membaca salah satu buku Gola Gong, tentang pengalamannya mengelilingi Asia dengan bersepeda, dan mitos ari-ari yang dibuang ke sungai menjadi salah satu alasan ‘kesukaannya bepergian’, membuat saya pun suatu hari bertanya ke bapak, ari-ari saya dibuang kemana? Bapak saya menjawab singkat ‘laut’. Jawaban itu meyakinkan saya untuk menjadikan bepergian sebagai hobby :D
Sejak awal kuliah, saya menempelkan peta Indonesia di kamar kosan untuk memvisualisasikan bahwa suatu hari saya akan menjelajah meskipun belum terpikirkan bagaimana caranya. belakangan, peta dunia pun saya tempelkan. Saat ini saya sudah mendatangi hampir separuh dari daerah atau pulau besar di Indonesia. Sekarang belum akan menceritakan bagian itu. Tapi akan melintasi luar Indonesia dulu hehe…
Selain ingin mengunjungi kota suci Makkah, negara pertama yang ingin saya datangi adalah Afrika Selatan. Kenapa? Karena saat SMA saya membaca satu artikel di majalah Aneka Yess, saat itu artisnya adalah Titi Kamal yang mengunjungi Afrika Selatan… konon di sana ada sebagian besar keturunan Bugis-Makassar, Keturunan Syekh Yusuf. Saya ingin kesana.
Mimpi itu saya simpan hingga saat ini. Tetapi kita tak pernah tahu, kemana takdir akan membawa…
Dan akhirnya, negara pertama yang saya kunjungi adalah Malaysia, trus ke Bangkok. Semuanya berawal dari niat membuat paspor di awal tahun 2013 bersama seorang sahabat. Kemudian di bulan september saya dan seorang rekan kerja mengalami mimpi (mimpi saat tidur) yang sama tentang perjalanan ke daerah antah berantah.. dan tanpa pikir panjang, beberapa hari kemudian kami langsung booking tiket dan komitmen mengumpulkan uang selama 3 bulan untuk membayar tiket dan mempersiapkan uang untuk perjalanan itu.
Rekan kerja itu bermimpi, bahwa dalam perjalanan kami bertemu teman seperjalanan, laki-laki, yang akan menjadi teman dalam mencapai misi di perjalanan. Kami mencoba untuk percaya, bahwa orang itu mungkin benar-benar ada.
Kuala Lumpur, Penang, Bangkok dan Hat Yai… banyak hal yang kami temukan disana, dan seperti di dalam mimpi itu, akhirnya kami benar-benar bertemu dengan seseorang yang menjadi tokoh kunci yang membawa kami hingga ke Bangkok :)